MINTA TOLONG!
Seorang anak perempuan kecil polos dengan mata yang tak
kunjung mengantuk sedang menikmati gelapnya malam dan menatap langit yang indah
dengan cahaya bintang dan bulan. Hampir setiap malam anak kecil itu selalu melakukan
hal seperti ini. Tenyata ia memiliki ketertarikan dengan dunia astronomi yang
saat itu belum ia ketahui dan pelajari. Kemudian seorang laki-laki dewasa
datang menghampirinya ikut serta menikmati indahnya langit malam itu. Terdiam
selama beberapa menit dan kemudian laki-laki dewasa tersebut memulai membuka
mulut.
“Nak, udah shalat belum?”
Anak tersebut seketika bingung. Bingung antara harus berbohong atau berkata jujur.
“Kalau aku jujur, nanti papa marah. Kalau aku bohong, ntar dosa, tapi kalau bohongnya sekali boleh kali yaa” anak itu berkata dalam hati.
“Udah pah, udah shalat tadi di kamar” anak itu berbohong kepada ayahnya.
“Shalat itu penting nak. Jadi jangan sampai kamu meninggalkan shalat ya”
“Pah. Allah itu nyuruh kita shalat untuk apa sih. Kenapa shalat itu penting. Kenapa kita umat Islam wajib ngerjain shalat?”
“Itu memang perintah dari Allah nak. Ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur” lalu pergi meninggalkan anak gadisnya duduk sendirian.
“Aku tuh gak butuh lho jawaban kek gitu. Aku juga tau kali kalau itu perintah dari Allah, tapi alasannya itu lho kenapa. Sejarahnya itu apa sehingga aku, kamu, kita itu disuruh shalat!” Anak itu ngedumel dalam hati dengan mimik wajah yang terlihat kesal.
“Nak, udah shalat belum?”
Anak tersebut seketika bingung. Bingung antara harus berbohong atau berkata jujur.
“Kalau aku jujur, nanti papa marah. Kalau aku bohong, ntar dosa, tapi kalau bohongnya sekali boleh kali yaa” anak itu berkata dalam hati.
“Udah pah, udah shalat tadi di kamar” anak itu berbohong kepada ayahnya.
“Shalat itu penting nak. Jadi jangan sampai kamu meninggalkan shalat ya”
“Pah. Allah itu nyuruh kita shalat untuk apa sih. Kenapa shalat itu penting. Kenapa kita umat Islam wajib ngerjain shalat?”
“Itu memang perintah dari Allah nak. Ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur” lalu pergi meninggalkan anak gadisnya duduk sendirian.
“Aku tuh gak butuh lho jawaban kek gitu. Aku juga tau kali kalau itu perintah dari Allah, tapi alasannya itu lho kenapa. Sejarahnya itu apa sehingga aku, kamu, kita itu disuruh shalat!” Anak itu ngedumel dalam hati dengan mimik wajah yang terlihat kesal.
Kejadian dan pertanyaan yang sama selalu terjadi
berulang-ulang, sampai akhirnya anak tersebut mulai masuk sekolah dasar dan
mulai sedikit demi sedikit belajar agama islam di sekolah. Di sekolahnya ia
mendapatkan sebuah soal agama islam yang mempertanyakan amalan yang manakah
yang pertama kali di hisab di akhirat kelak? Dan ternyata anak tersebut
menjawab jawaban yang salah dan ia penasaran dengan jawaban yang benar yang
mana.
Kemudian, selepas shalat magrib. Anak itu kembali bertanya
kepada ayahnya. Pertanyaan yang sama. Namun dijawab dengan jawaban yang
berbeda.
“Pah kenapa kita harus shalat?”
“Nak, shalat itu amalan utama yang akan
dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Jika shalat mu bagus, maka baguslah
semua amal mu yang lain, tapi jika shalat mu tidak bagus, maka semua amal mu
juga tidak bagus. Jadikan shalat sebagai kebutuhan mu sehingga jika kamu tidak
shalat kamu akan merasa ada yang kurang dalam hidup mu”
Anak itu terdiam dan berkata dalam hati “Ooh jadi jawaban
soal aku tadi yang bener itu shalat toh”.
Namun anak itu masih belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh ayahnya tersebut. Sampai suatu hari ayahnya menyuruh anaknya tersebut untuk membuka Qur’an yang ada di lemari kecil milik ayahnya dan anak tersebut membuka Al-Qur’an saat tengah malam secara sembunyi-sembunyi ketika yang lain sudah tertidur lelap. Entah apa yang dilihat dan dibaca anak itu, seketika anak itu menutup Qur’an itu kembali dan mulai menatap langit, bintang, bulan dan hal-hal yang ada di sekitarnya. Tiba-tiba ia menangis, hatinya dipenuhi rasa takut dan memohon ampun kepada Rabb nya.
Namun anak itu masih belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh ayahnya tersebut. Sampai suatu hari ayahnya menyuruh anaknya tersebut untuk membuka Qur’an yang ada di lemari kecil milik ayahnya dan anak tersebut membuka Al-Qur’an saat tengah malam secara sembunyi-sembunyi ketika yang lain sudah tertidur lelap. Entah apa yang dilihat dan dibaca anak itu, seketika anak itu menutup Qur’an itu kembali dan mulai menatap langit, bintang, bulan dan hal-hal yang ada di sekitarnya. Tiba-tiba ia menangis, hatinya dipenuhi rasa takut dan memohon ampun kepada Rabb nya.
“Ya Allah, kenapa aku bertanya seperti itu. Ya Allah aku bukan
seorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan dan bukan tidak yakin dengan agama
yang ku pilih, tapi aku hanya ingin tahu alasan Engkau menyuruh kami shalat itu
untuk apa. Maafkan hamba-Mu ini Ya Rabb”
Selama ini anak itu shalat karena takut dengan ayahnya, tapi
mulai saat itu ia belajar memahami shalat perlahan-lahan sampai akhirnya ia
melaksanakan shalat karena ia butuh, bukan karena takut dengan ayahnya.
.
.
.
.
.
.
.
Itulah saya ketika masih kecil. Anak yang tidak mau menerima
alasan yang sederhana. Saya selalu ingin mendapatkan jawaban yang jelas dan
yang membuat saya puas. Sampai akhirnya Allah sendiri yang memberikan jawaban
itu ke saya. Saya takut termasuk orang yang munafik. Saya belajar
perlahan-lahan memahami agama yang saya pilih.
Makin bertambah umur, makin banyak hal yang saya pelajari.
Terutama tentang shalat. Allah tuntun saya untuk memahami semua ini sedikit
demi sedikit.
Sebelumnya saya bingung untuk memulai dari mana. Saya ingin
menjadi seorang muslim yang baik dan saya ingin memperbaiki hidup saya. Tapi
bingung mau mulai darimana?
Ternyata shalatlah jawabannya. Ketika seseorang hendak ingin
menjadi lebih baik dan ingin memperbaiki hidupnya, maka mulailah dengan
memperbaiki shalatnya.
Tapi semuanya tidak mudah, ternyata untuk memperbaikinya haruslah
dengan kegigihan dan yang pasti ujian itu datang bertubi-tubi.
Ketika saya mulai ingin memperbaiki diri dan belajar agama
lebih dalam lagi, banyak teman saya yang dulunya dekat, kini agak renggang
karena fokus kami beda. Tapi Allah Maha Baik, Ia berikan teman-teman baru yang
membuat saya selalu semangat dan tidak lupa untuk mengerjakan shalat. Mereka
teman-teman yang mendukung apa yang sedang saya jalani.
Lalu ada momen dimana ayah saya pernah berkata seperti ini
kepada saya :
“Papa minta tolong sama kamu. Sholatlah tepat waktu. Bacalah
Qur’an setidaknya sehari 10 ayat saja” dengan nada seperti mengemis.
Saya sadar, saya paham. Kenapa seorang ayah sampai
sebegitunya meminta tolong dan mengemis kepada anaknya. Itu tanda sayang dan
cinta orang tua kepada anaknya, karena ia paham bagaimana dahsyatnya hidup
sengsara di dunia bahkan di akhirat ketika seseorang meremehkan shalatnya.
Sayyidah Fathimah RA pernah bertanya kepada Rasulullah saw. : “Wahai Ayah ku, apa sanksi orang yang meremehkan waktu shalat dan mempermainkan shalatnya”
Lalu Rasulullah menjawab : “ Wahai putriku sanksinya adalah Allah akan berikan kepadanya 15 bencana dalam kehidupannya. Yang 6 akan Allah berikan di dunia yaitu, Allah akan cabut berkah umurnya, Allah akan cabut berkah rizkinya, Allah akan cabut tanda-tanda sholeh dari wajahnya, semua amalan yang dia lakukan, tidak akan diberi pahala oleh Allah, doanya tidak diangkat oleh Allah, dia tidak memperoleh bagian dari doanya orang-orang sholeh. Lalu yang 3 berikutnya akan Allah berikan di saat menjelang kematiannya yaitu, dia akan mati dalam keadaan hina, mati dalam keadaan lapar, mati dalam keadaan dahaga dan yang 3 berikutnya Allah akan berikan diliang kuburnya yaitu, Allah akan kirim malaikat yang selalu menakutinya, Allah akan sempitkan kuburannya, Allah akan jadikan kuburannya gelap gulita dan yang 3 terakhir akan Allah berikan ketika ia dibangkitkan di hari kiamat yaitu, Allah akan mengirimkan malaikat yang akan menyeret dia dengan dengan posisi kepala di bawah ke Jahannam dan disaksikan oleh seluruh penghuni Mahsyar, Allah akan hisab dia dengan hisab yang sangat sulit, Allah tidak akan melihatnya, Allah tidak akan mensucikannya dan dia akan tersiksa.”
Sayyidah Fathimah RA pernah bertanya kepada Rasulullah saw. : “Wahai Ayah ku, apa sanksi orang yang meremehkan waktu shalat dan mempermainkan shalatnya”
Lalu Rasulullah menjawab : “ Wahai putriku sanksinya adalah Allah akan berikan kepadanya 15 bencana dalam kehidupannya. Yang 6 akan Allah berikan di dunia yaitu, Allah akan cabut berkah umurnya, Allah akan cabut berkah rizkinya, Allah akan cabut tanda-tanda sholeh dari wajahnya, semua amalan yang dia lakukan, tidak akan diberi pahala oleh Allah, doanya tidak diangkat oleh Allah, dia tidak memperoleh bagian dari doanya orang-orang sholeh. Lalu yang 3 berikutnya akan Allah berikan di saat menjelang kematiannya yaitu, dia akan mati dalam keadaan hina, mati dalam keadaan lapar, mati dalam keadaan dahaga dan yang 3 berikutnya Allah akan berikan diliang kuburnya yaitu, Allah akan kirim malaikat yang selalu menakutinya, Allah akan sempitkan kuburannya, Allah akan jadikan kuburannya gelap gulita dan yang 3 terakhir akan Allah berikan ketika ia dibangkitkan di hari kiamat yaitu, Allah akan mengirimkan malaikat yang akan menyeret dia dengan dengan posisi kepala di bawah ke Jahannam dan disaksikan oleh seluruh penghuni Mahsyar, Allah akan hisab dia dengan hisab yang sangat sulit, Allah tidak akan melihatnya, Allah tidak akan mensucikannya dan dia akan tersiksa.”
Ya Allah, saya sadar, maafkanlah saya yang semasa kecilnya
mempertanyakan semua hal yang jelas-jelas itu semua Engkau perintahkan karena
Engkau sayang kepada hamba-Mu.
Ya Allah, saya paham. Mengapa seseorang yang ingin
memperbaiki hidupnya harus dimulai dari shalatnya terlebih dahulu. Semua yang
sudah Rasulullah saw. katakan sudah jelas.
Bagaimana seseorang di dunia ini bisa hidup dengan bahagia
dan tenang, jika mereka meremehkan dan mempermainkan shalatnya. Jika mereka
temukan kebahagiaan, itu hanya kebahagiaan semu yang menipu dan makin membuat
kita jauh dari Engkau, Ya Rabb.
Ya Rabb, hamba-Mu ini menangis, beberapa teman hamba masih
banyak yang meremehkan dan mempermainkan shalatnya. Lalu bagaimana hamba bisa
menolongnya, jika doa yang hamba haturkan tidak mereka dapatkan. Betapa
sengsaranya ya Rabb jika hidup tidak shalat ini. Teguhkanlah iman islam dalam
diri hamba dan orang-orang di sekitar hamba.
Teman, jika kalian sudah membaca postingan saya yang
pertama, ini akan sangat berkaitan sekali.
Saya ingin masuk surga bersama kalian semua. Maafkan saya
yang sering cerewet dan keras dalam mengingatkan kalian terus menerus tentang
shalat, menanyakan terus menerus apakah kalian sudah shalat atau belum dan
selalu begitu ketika bertemu dan berbicara. Demi Allah, Allah lah yang tau
maksud dan tujuan saya mengapa sampai saya sebegitunya dengan kalian. Itu tanda
sayang saya sebagai teman kepada kalian.
Hidayah itu harus di jemput, bukan di
tunggu dan di harapkan saja. Tapi harus di jemput dan diperjuangkan.
Bagaimana kita bisa
berubah, jika kita tidak mau membuka pintu perubahan. Bagaimana kita bisa
menerima perubahan, jika kita menolak itu secara perlahan.
Bagaimana saya seorang tamu dapat masuk ke rumah kamu, jika
kamu hanya diam dan tidak membuka pintu rumah, maka saya sebagai tamu yang baik
tidak akan pernah masuk ke rumah mu sebelum kamu mempersilahkan dan membuka
pintu tersebut dan untuk membuka pintu tersebut, kamu harus memiliki kuncinya,
sehingga saya bisa masuk tanpa merusak pintu rumah kamu.
Shalat itu melunakkan hati yang keras, menentramkan jiwa
yang suram dan memberikan ketenangan bagi yang beriman.
Carilah teman yang bisa mengingatkan kita untuk terus
menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Carilah dia sampai sejauh mana pun,
karena banyak sekali manusia di dunia ini yang tertipu karena hanya mempertahankan
pertemanan yang duniawi dan meninggalkan pertemanan yang hakiki.
Mendapatkan teman yang “baik” itu susah, namun melepaskannya
sangatlah mudah. Maka jangan sia-siakan mereka, jika kamu sudah mendapatkannya.
Komentar
Posting Komentar