Aku termasuk yang mana?
Mungkin banyak orang berfikir bahwa saya melakukan ini “dadakan”
dan tak terencana atau bahkan ada yang berkomentar bahwa ini terlalu
berlebihan. Tapi saya secara tegas katakan TIDAK. Saya menghargai apa yang
orang lain katakan tersebut karena saya yakin setiap individu di muka bumi ini
memiliki jalan dan proses hidup yang berbeda-beda. Jika saya sejak kecil sudah
diajak berfikir “berbeda” dan sering diajak diskusi mengenai manusia, agama,
politik dan hal-hal di sekitar lingkungan hidup saya, maka hal tersebut belum
tentu terjadi dengan masa kecil inidividu yang lainnya. Saat itu saya
benar-benar masih kecil, belum memasuki dunia sekolah dan tidak suka membaca
buku. Saya hanya seorang anak kecil yang masih suka bermain-main sehingga saya
sadar sekali dan memaklumi bahwa saat ini cara padang saya banyak berbeda dari
saudara-saudara saya. Salah satunya mengenai pertemanan.
Bagi saya hidup haruslah memiliki prinsip yang selaras dengan
apa yang seharusnya manusia jalani sesuai perintah-Nya. Dalam hal pertemanan
saya memiliki prinsip bertemanlah dengan siapa saja, tetapi jadilah orang yang
berpengaruh positif, bukan malah terpengaruh negatif, sehingga di mana pun kita
berada, kita tetaplah menjadi pribadi yang positif dan tidak terbawa arus
negatif. Tapi apakah semudah itu mengaplikasikannya? Tentu tidak. Hal pertama
yang harus kita pahami adalah batasan-batasan dan kelemahan diri sendiri. Ini adalah
poin pertama.
Lalu, saya akan bertanya pada diri saya. Selalu bertanya
tentang semua yang saya lakukan ini bertujuan untuk apa. Dalam berteman tujuan
saya hanya satu, saya ingin memperbanyak teman yang dapat bertemu kembali di
akhirat kelak. Surga terasa tidak indah, jika hanya dinikmati sendirian. Saya
ingin semua orang yang saya anggap teman atau bahkan lebih, ikut serta masuk
surga bersama.
Maaf, saya berkata demikian, bukan karena saya orang yang
merasa sudah mendapat tiket ke surga, tetapi justru sebaliknya, karena saya
merasa diri ini pendosa, diri ini hina dan tak pantas sebenarnya masuk surga. Maka
saya mencari hal-hal lain yang dapat membantu saya masuk ke surganya Allah.
Saya tidak pandang bulu dalam berteman, selagi masih dalam konteks wajar dan
tidak “merugikan”. Maka saya akan tetap berteman dengan orang tersebut. Tapi
dalam berteman saya pun telah memetak-metakan dalam berbagai kategori. Kenapa
demikian? Balik lagi ke tujuan awal.
Memetak-metakan pertemanan sudah ada dalam hidup saya
sebelum saya tahu, bahwa hal ini dijelaskan juga dalam agama saya, yaitu Islam.
Ayah saya pernah berkata, bahwa di akhirat kelak manusia satu sama lainnya
saling acuh tak acuh, bahkan antara anak dan ibu pun tak saling berkasih-kasihanan.
Lalu saya berfikir, jika hubungan anak dan ibu saja tak berarti lagi di
akhirat, sudah terputus dan tak layaknya lagi seperti kehidupan di dunia, lalu
bagaimana dengan hubungan pertemanan?
Ya Rabb, sungguh saya takut dengan gambaran padang Mahsyar.
Sungguh ya Rabb, saya takut akan amal saya yang belum cukup ini, maka berikalah
saya teman yang senantiasa ikhlas mengulurkan tangannya untuk membantu saya
kelak.
Dalam Qur’an surah Az-Zukhruf ayat ke 67 Allah berfirman : “Teman-Teman
karib pada hari itu (kiamat) nanti saling bermusuhan satu sama lain, kecuali
mereka yang bertaqwa”
Lalu Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Bahwa setiap
persahabatan yang dilandasi cinta karena selain Allah, maka pada hari kiamat
nanti akan kembali dalam keadaan saling bermusuhan. Kecuali persahabatannya
dilandasi cinta karena Allah, inilah yang kekal selamanya”
Mungkin hal ini yang membuat saya sangat berhati-hati dalam
memilih seseorang sebagai sahabat. Ingat sebagai sahabat, bukan sebagai teman.
Karena menurut saya sahabat adalah orang yang benar-benar mengetahui diri kita
dan memiliki visi misi yang sama.
Dalam hal memilih sahabat, mungkin saat ini
saya bisa saja membidik satu orang kelak menjadi sahabat saya, tapi saya harus
melalui bertahun-tahun lamanya untuk dites dan mengetes satu sama lainnya
sampai akhirnya setelah beberapa tahun kemudian saya akan mengucapkan padanya
bahwa kita adalah sahabat. Maka ketika itu saya dan sahabat saya akan saling membantu
mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai macam cara. Tidak perlu bertemu
dan berkomunikasi setiap hari yang penting adalah dakwah akhlak dan ucapan yang
berarti setiap berbicara walaupun katakanlah seminggu atau bahkan sebulan
sekali. Karena kita akan saling memahami, bahwa kita memiliki aktivitas dan
kesibukan masing-masing, sehingga tidak ada drama marah-marahan ataupun hal
yang lainnya. Inilah yang saya sebut dewasa.
Dalam berteman juga saya memilih ‘ada setiap saat ketika
dibutuhkan’, bukan ‘ada setiap saat yang mereka inginkan’. Mereka harus paham,
bahwa hidup di dunia ini manusia tidak boleh bergantung kepada siapapun,
kecuali kepada Allah. Mereka harus paham, bahwa semua yang ada di dunia ini
bersifat semu, sehingga kita sebagai manusia harus membiasakan dan melatih
mental untuk apa-apa kembali lagi ke Allah. Dilatih dan dibiaskan, jadi semua
itu gak instan.
Balik ke memetak-metakan pertemanan tadi, jadi ada 7 macam
pertemanan. No 1-6 akan sirna di akhirat dan yang tersisa hanya no 7. Namun
teman no 7 ini sering kali dipandang sebelah mata, selain terkadang dinilai sok
suci, sok alim, alay, berlebihan, gak asik dan juga tidak begitu menghasilkan
sesuatu yang kebanyakan orang suka di dunia ini, apalagi urusan materi. Padahal
di akhirat kelak, teman no 7 inilah yang akan “bermanfaat” dan dapat memberi
syafa’at.
1. Ta’aruffan
Yaitu teman yang kenal secara kebetulan.
Seperti bertemu di kereta, bus, masjid, dll.
2. Taariiihan
Yaitu teman karena faktor sejarah. Seperti teman
sekampung, se-kos, se-almamater, dll.
3. Ahammiyyatan
Yaitu teman karena kepentingan. Seperti
teman bisnis, politik, dll.
4. Faarihan
Yaitu teman karena sehobi. Seperti hobi
travelling, hobi motor, kuliner, dll.
5. Amalan
Yaitu teman karena profesi. Seperti dokter,
guru, atlet, dll.
6. Aduwwan
Yaitu teman yang terlihat seperti baik,
tapi sebenarnya penuh kekebencian.
7. Hubban
Yaitu teman yang suka MENGINGATKAN-mu serta
MENGAJAK-mu selalu kembali ke jalan Allah swt. Teman yang seperti inilah yang
akan sampai di akhirat.
Lalu aku termasuk yang mana?
Perlu kalian ketahui, wahai teman-teman,
sahabat dan semuanya yang suatu saat membaca ini. Saya bukan manusia sempurna
dan saya bukan orang baik seperti yang kalian pikir dan kalian lihat. Semua
yang baik pada diri saya itu semua milik Allah, sedangkan yang buruk dari diri
saya itu murni kesalahan saya, bukan salah siapapun.
Saya bersyukur bisa mengenal kalian semua.
Saya tidak peduli sesuram dan sejelek apapun masa lalu kalian yang pernah
kalian ceritakan kepada saya, ketika saya sudah berkata bahwa kalian teman
saya, maka seterusnya kalian akan menjadi TEMAN SAYA !
Jangan merasa bahwa kalian tidak pantas
berteman dengan saya, justru kadang saya merasa bahwa saya yang tak pantas
berteman dengan kalian.
Saya tidak akan mencela masa lalu
seseorang, karena itu bukanlah ajaran yang diberikan oleh Rasulullah saw. kepada
umatnya dan jika saya dapati seseorang yang memiliki kesungguhan, gigih dan
bersemangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Inshaallah saya akan
bantu semaksimal mungkin. Kita tidak pernah tahu, dari mana hidayah dan syafa’at
itu datang dan diberikan kepada seseroang. Selayaknya manusia yang penuh dosa,
saya hanya ingin menjadi manusia yang bermanfaat dan saya yakin Allah itu adil.
Kamu adalah teman saya, saat itu juga saya
akan memiliki “Verbindung” yang Allah titipkan untuk disampaikan kepada saya
dan mereka. Tugas saya hanya menyampaikan bukan mengubah seseorang tersebut.
Saya ingin, kita menjadi “HUBBAN”. Berteman
karena Allah, ketika mati akan dipertemukan lagi dengan Allah dengan tangan
yang saling mengajak masuk ke surganya Allah. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar